Agar kejadian kemarin terulang.Jam berapa aku berangkat. Bokep mom Mendadak jari tanganku dingin semua.Wajahku merah padam. Aku berhasil. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Lalu asyik membuka tabloid. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Hawin..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya. Mobil melaju. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Hawin menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Dingin. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Aku menggelepar.“Sst..! Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh.Ia menekan-nekan agak kuat. Ini kesempatan kedua. Tidak terlalu ayu.




















