Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Kadang-kadang ketimun. Playbokep Ke bawah: Tidak. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Ia tersenyum ramah. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. Ke bawah lagi: Tidak. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Lalu pindah ke pangkal paha. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Dan kubuka celana pantai. Keberuntungankah? Jendela kubuka. Shit! Duduk di tepi dipan. Tapi masih terhalang kain celana. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Kuusap sisa cream. Sial. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Duduk di tepi dipan. Ia tidak lagi dingin dan ketus. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.“Mbak Wien.., udah ada pasien tuh,”




















