Sesampainya di stasiun, aku langsung bisa mengenalinya, wanita anggun dengan setelan blazer khas wanita karier.Aku pun menyapanya, “Mbak Lina..!” Dia pun berpaling kepadaku, dan tampaknya dia terperanjat, “Ya ampun.. Bokep jepang Lina.Obrolan kami pun terus berlangsung, mulai dari hal-hal yang ringan hingga hal-hal yang berbau seks. Bunga.. bisa bicara dengan Dik Bunga?”Aku pun menjawab, “Ya, saya sendiri.. Dia membetulkan selimutnya sambil menatapku dalam-dalam, aku tak berani menatapnya, aku hanya bisa tertunduk malu.“Bunga sekarang jam berapa?” katanya kepadaku.“Jam sembilan Mbak,” jawabku takut-takut, sambil terus menunduk.“Ya ampun.. kamu kan harusnya sudah tahu itu, Mbak kan sudah bilang.. uuhh..”jeritnya tertahan. Aku melihatnya masih teronggok di atas ranjang, tampaknya dia kelelahan sampai tertidur, kasihan aku melihatnya.Aku pun mendekat dan berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut.




















