Sedangkan aku tetap diam, tak memberikan reaksi apa-apa. Lidya mengambil tanganku dan menaruh di dadanya yg membusung padat dan kenyal.Dia membisikkan sesuatu, namun aku tak mengerti dgn permintaannya. Bokep Hd Dan juga anak terakhir. Memang tingkahku tak ubahnya seorang anak balita.Tangisanku baru berhenti setelah Bapak berjanji akan membelikanku motor. Antara lima dan enam tahun. Namun sama Sekali aku tak bisa apa-apa. Dia tersenyum-senyum. Berulang kali dia menuntun tanganku ke dadanya yg kini sudan polos.“Ayo dong, jangan diam saja..”, bisik Lidya disela-sela tarikan napasnya yg memburu. Suasananya sepi-sepi saja. Bahkan aku tetap tak peduli meskipun Lidya menggeser duduknya hingga hampir merapat dgnku. sehingga tak ada selembar benangpun yg masih melekat di sana. Sembari memandangiku yg masih terbaring dalam keaadaan polos, Lidya mengenakan lagi pakaiannya.




















