Aku menggelepar.Sst..! Bokep mom Aku menurut saja. Ataukesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupiwajah? Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Keras sekali.Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.Ia berdiri. Kulihatdi bawahku ada kain, ya seperti saputangan.Itu kali Mbak, kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika iamembersihkan paha bagian bawah. Sopir menepikankendaraan persis di depan sebuah salon. kataku sambil menancapkan Junioramblas seluruhnya.Si Nina, yang tadi. Suara itu lagi.Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta akumenutup kaca angkot. Betisnya mulus ditumbuhi bulubuluhalus. Dari jarak yang dekat ini hawa panastubuhnya terasa. Alamak.., jauhnya. Akudipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Namun, tibatibakeberanianku hilang. Bodoh amat. ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Jagain sebentarya..!Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Mbak Wien sudah turun. Wanita muda itu mengikuti di belakang.Kemudian menyerahkan celana pantai.Mbak Wien, pasien menunggu, katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya.




















