katanya lagi seperti iri padaWien.Aku mengambil pakaianku. Bokep Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Kesempatan tidak akan datangdua kali. pintanya.Aku membalikkan badanku. Ah.., selangkanganku disentuhlagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskancream. Ataujanganjangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya purapura masuk. Toh ia sudah seperti pasrahberada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Bodoh amat. Masih melongo.Itu jendelanya dirapetin dikit.., katanya lagi.Ini..? ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Tidak perludiantar. Toh, sisetengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba disalonnya. Iamenurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulkutersentuh. Pijitan turun ke perut. Ia malah melengos. Aku masihmematung. Aku masih di atas angkot.Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku.Masih menutupi diri dengan tabloid. Lalu ia mengolesi dadakudengan cream.




















